Nasionalisme Tidak Seluas Lapangan Bola

 

Malam ini kita baru saja menyaksikan penutupan SEA Games 2011 dari Jakabaring Sport Center. Acara megah nan meriah menandai selesainya hajatan akbar pesta olahraga negara-negara Asia Tenggara, SEA Games ke-26. Tata cahaya, lampu laser maupun pesta kembang api membuat kita terkagum.

Ya, setelah 12 hari digelar, akhirnya SEA Games resmi berakhir malam ini.

Dalam SEA Games kali ini Indonesia berhasil menjadi juara umum dengan rincian medali 182 emas, 151 perak, dan 143 perunggu. Di susul Thailand di posisi kedua, sedangkan Vietnam berada di posisi keempat.

Sebuah prestasi yang membanggakan bagi masyarakat olahraga tanah air, karena memang ini adalah kali pertama Indonesia menjadi juara umum di SEA Games, setelah sebelumnya menjadi juara umum SEA Games 1997 di Jakarta.

Namun, dibalik kesuksesan tim SEA Games merah putih, ada sesuatu yang mengganjal. Ya, sampai detik ini banyak orang mengkritik dan mencela permainan Timnas sepak bola U-23 yang terpaksa hanya meraih medali perak, setelah semalam di kalahkan Timnas U-23 Malaysia dalam laga final cabang sepak bola.

Mereka beranggapan, demi nasionalisme, tidaklah lengkap gelar juara umum tanpa kemenangan di cabang sepak bola. Apalagi Indonesia menyerah kepada Malaysia, yang dianggap sering melecehkan martabat bangsa.

Mereka, para suporter merasa kecewa dan menumpahkan kekecewaan dengan berbagai sumpah serapah. Ada yang menyalahkan Rahmad Darmawan selaku pelatih, ada yang menghujat wasit karena dianggap tidak adil, ada yang melimpahkan kekesalannya kepada Ferdinand Sinaga yang gagal mengeksekusi tendangan pinalti, bahkan yang lucu, Yongki sebagai pemain cadanganpun tak luput dari kecaman.

Kekesalan dan kekecewaan wajar terjadi pada setiap suporter. Namun harus di ingat, bahwa timnas U-23 telah memberikan yang terbaik untuk bangsa. Permainan menarik yang sempat hilang pada tim Garuda, kini telah hadir kembali, hanya saja, Malaysia lebih beruntung daripada Indonesia, dan sayangnya, dibawah naungan sportifitas hanya ada satu juara.

Jika suporter yang kerjanya mensupport dan menyaksikan pertandingan merasa kecewa, lantas bagaimana perasaan para pemain timnas yang telah berjuang mati-matian ditengah lapangan. Mereka jauh lebih kecewa.

irfan bachdim tweet

Nasionalisme tidaklah seluas lapangan bola. Kita harus menghargai juga jasa atlet-atlet Indonesia di bidang lainnya.

Jaga sportifitas, lupakan kekalahan dalam cabang sepak bola. Dan banggalah, karena Indonesia juara!

Congratulation dan terimakasih seluruh tim dan official Indonesia yang berhasil mengharumkan Indonesia. Terimakasih para suporter Indonesia yang dengan setia selalu mensupport saat Indonesia berlaga. Terimakasih juga garuda muda. Terbanglah lebih tinggi, demi kehormatan bangsa

dok: detiksport.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s